Kamis, 10 Oktober 2013

Singkawang Tuan Rumah Pesparawi VII Kalbar



By
Singkawang. Ketua II Panitia Pelaksana Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) VII Kalbar, Pdt Matheos Mau STh mengajak seluruh elemen masyarakat berpartisipasi menyukseskan gawai besar ini.
“Pesparawi merupakan gawai kita bersama. Sudah sepantasnya kalau kita masyarakat Kota Singkawang menyukseskan kegiatan ini,” kata Matheos ditemui di Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kota Singkawang, kemarin.

Pesparawi VII tingkat provinsi ini akan dilaksanakan selama lima hari sejak 21 Oktober 2013 di Kota Singkawang. Setiap kabupaten/kota di Kalbar akan mengirimkan sekitar 200 peserta. Sehingga jumlah keseluruhannya sekitar 2.800 peserta. “Belum lagi termasuk jumlah supporter yang hadir. Sangat disayangkan kalau kesempatan ini tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh masyarakat Kota Singkawang,” kata Matheos.

Menurut dia, Bidang Dokumentasi, Humas dan Publikasi mempunyai peran yang sangat strategis dalam Pesparawi ini. Makanya, dia mengharapkan bidang ini lebih meningkatkan kinerjanya dan segera mensosialisasikan kepada seluruh masyarakat Kota Singkawang khususnya, dan Kalbar umumnya. “Dengan keterbatasan anggaran yang ada di kepanitiaan, kami sangat mengharapkan seluruh masyarakat baik pengusaha, organisasi, instansi, dan lainnya untuk berpartisipasi dalam mensosialisasikan gawai ini, melalui spanduk, baliho brosur, dan lainnya,” harap Matheos.

Dia menjelaskan, Pespawari ini untuk meningkatkan kualitas iman dan ketakwaan, tata cara dan pola hidup semakin terarah kepada kepenuhan Firman Tuhan, hidup dalam kasih dan peduli terhadap sesama.

Selain itu, tambah Matheos, menjadi bagian dari pelayanan Kristiani, khususnya dalam era pembangunan nasional saat ini. Sehingga kesejahteraan masyarakat semakin terwujud, saling memerhatikan satu dengan lainnya, yang merasa mampu hendaklah menopang yang lemah, sebaliknya yang lemah bersedia dituntun. “Terjun dalam Pesparawi sesungguhnya sama seperti keikutsertaan dalam kebaktian pelayanan kesaksian paduan suara di Gereja. Setiap yang terlibat, konduktor, sopran, alto, tenor dan bas hingga pemusik yang mengiringi, harus selalu tampil dengan penuh tanggungjawab. Sehingga paduan suara yang dilantunkan adalah merupakan refleksi iman,” jelas Matheos.

Pesparawi ini juga untuk memahami keanekaragaman denominasi sebagai anugerah Tuhan yang disyukuri, agar terwujud kerukunan. “Tembok-tembok pemisah akan semakin menipis. Sehingga setiap umat Kristen dimanapun menikmati persaudaraan, seiman dan rukun dalam sikap dan tindakan sehari-hari,” kata Matheos.

Di sisi lain, Matheos mengharapkan saudara-saudara beragama lainnya juga bersikap sama karena ke-Bhineka-an sebagai bangsa hendaklah dijadikan sebagai sarana kesemarakan hidup berbangsa dan bernegara, bukan untuk menekan yang lain. (dik)

0 komentar:

Poskan Komentar