Minggu, 13 Oktober 2013

SEJARAH TERBENTUKNYA PESPARAWI NASIONAL

Sekitar tahun 1967, setelah terhindar dari malapetaka besar akibat pergolakan kaum komunis, bangsa Indonesia mulai menata kehidupan yang lebih baik, bersama-sama dalam kesatuan berbangsa dan bernegara maupun dalam kelompok yang lebih kecil yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat. Pada tatanan birokrasi, situasi kehidupan beragama yang semakin kondusif di negeri kita juga mendapat perhatian serius dari Pemerintah. Tahun 1973 Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen mengangkat kegiatan koor gerejani yang sifatnya intern dan lokal itu kepermukaan yang lebih tinggi dengan melembagakannya menjadi forum berbentuk Pesta Paduan Suara Gerejani (PESPARANI) sebagai usaha peningkatan hidup beragama melalui kesenian yang bernafaskan keagamaan Kristen. Digagaskan dalam bentuk lomba antar paduan-paduan suara antar sesama gereja dalam kota atau ruang lingkup daerah tertentu, forum ini merupakan kelanjutan dan penghargaan terhadap festival koor sehingga menjadi salah satu bentuk upaya peningkatan hidup beragama melalui kesenian yang bernafaskan kekristenan, jadi bagian dari pendukung budaya bangsa yang beraneka ragam dan diharapkan akan turut mendorong lebih pesat kesadaran ke arah pentingnya memuji Tuhan dengan berbagai bentuk seni seperti menyanyi, memetik kecapi, menabuh rebana, dsb.
Sejak diperkenalkan, PESPARANI langsung mendapat sambutan yang positif di berbagai daerah seperti di Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, DKI Jakarta, Sumatera Utara, Sulawesi, Jawa Timur dan lain-lainya. Sambutan bukan hanya dari umat, tetapi juga oleh gereja, organisasi-organisasi kemasyarakatan dan Pemerintah Daerah sebagai kegiatan bersama yang saling membantu dengan penuh rasa saling hormat menghormati, sesuai dengan sifat bangsa Indonesia yang sosialis religius. Dari sudut pandang kepentingan nasional yang diusung oleh Departemen Agama, PESPARANI adalah bagian dari pembinaan mental spiritual umat beragama Kristen dalam rangka perwujudan nilai-nilai keagamaan yang terkandung dalam Pancasila dan UUD 1945.
Peran paduan suara yang mempunyai tempat dalam ritual gereja (Tata Ibadah Gereja) mendorong pemeluk agama Kristen terpanggil untuk turut ambil bagian dalam pelaksanaan PESPARANI sebagai wujud nyata keikutsertaan dalam Pembangunan Nasional. Melalui pesta itu mereka memancarkan nilai-nilai kebersamaan dan tali persaudaraan terhadap sesama umat manusia serta ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa di tengah-tengah kebhinekaan dalam rangka mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, dan Pemerintah memberikan bimbingan dan pengarahan serta memfasilitasi bantuan yang bersifat dukungan, demi lancarnya penyelenggaraan pesta.
Selama kurang lebih 10 tahun gereja dengan jemaat yang 'merasa terpanggil' di berbagai daerah telah berusaha untuk menyelenggarakan PESPARANI-nya masing-masing. Namun dapat dimaklumi kalau liputan media cetak dan elektronik (baca: koran nasional dan TVRI pusat) masih sangat kecil untuk dibaca, dilihat dan didengar oleh daerah lain karena berbagai keterbatasan fasilitas media komunikasi. Dengan kata lain, PESPARANI masih bergerak dan berjalan di tempat.
Perubahan besar baru terasa setelah berkat dukungan pimpinan Departemen Agama RI, tokoh-tokoh gereja dan masyarakat kristiani, upaya Diijen Bimas Kristen menyelenggarakan PESPARANI dalam skala nasional dapat diwujudkan. Pada tanggal 20 September 1982, ketika akan memasuki purna bhakti, Menteri Agama, H. Alamsyah Ratu Prawiranegara menerbitkan surat No. B.IV/01/426/1982 yang isinya mengatakan bahwa Menteri Agama tidak keberatan atas upaya tersebut. Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Kristen) Protestan, Drs. Soenarto Martowirjono tetap dapat menggunakan surat itu untuk menerbitkan Surat Keputusan atas nama Menteri Agama RI No. 52 Tahun 1982, Tentang Pembentukan Panitia Pelaksana Pesta Paduan Suara Gerejani (PESPARANI) Tingkat Nasional I dengan susunan kepanitiaan: Ketua Umum: St. W. Panjaitan, namun karena satu dan lain hal posisi itu diisi oleh Pdt. J.J. Matulessy, S.Th, SH sesuai dengan keputusan rapat panitia tanggal 10 Maret 1983 dan dituangkan dalam Surat Keputusan Dirjen Bimas (Kristen) Protestan No. 18 Tahun 1983, tanggal 23 Maret 1983.
Dalam waktu yang relatif singkat (kurang lebih tiga bulan), panitia bertekad mewujudkan Pesta Iman ini, dan berhasil. Perlu dicatat, betapa besarnya peranan seorang tokoh Kristen, Bapak Drs. Radius Prawiro, tanpa bantuan beliau, mungkin Pesparani Nasional I tidak akan terlaksana, karena sampai tiga minggu menjelang hari pesta itu, panitia baru mampu memperoleh dana kurang dari separuh yang direncanakan. Atas bantuannya, akhirnya seluruh dana yang dibutuhkan dapat terkumpul.
Meski dalam kondisi pas-pasan dan malah secara material terhadang oleh berbagai kekurangan, panitia yang baru dibentuk itu sesungguhnya tidak merasa terganggu. Sasarannya sangat jelas: Pesta Paduan Suara Gerejani adalah upaya kristiani agar dunia, masyarakat dan seluruh alam semesta beserta isinya bernyanyi memuji kemuliaan dan kasih Tuhan. Semua patut bersyukur dan percaya bahwa hanya Allah yang patut dipuji dan dibesarkan melalui puji-pujian. Umat Kristen di Indonesia menyatukan konsep dan pola pikir yang sama untuk merealisasikannya, yakni melalui Pesta Paduan Suara Gerejani.
Melalui Pesta ini gereja-gereja dengan jemaatnya (komunitas paduan suaranya) dipacu, didorong untuk mengesksplorasi, melatih dan meningkatkan kapasitas paduan suara masing-masing untuk menjadi bagian penting dan berkelanjutan dalam tata ibadah. Pada tahap proses yang sama, keikutsertaan mereka akan turut membina persaudaraan kristiani untuk mewujudkan kerukunan antar suku. Buah dari paduan seperti itu akan menjadi dasar yang kokoh, tulus dan terbuka dalam konteks hubungan dengan umat beragama yang lain, juga dengan pemerintah, secara setara dan nyata yang pada gilirannya akan mencerminkan kesatuan dan persatuan bangsa.
Terjun dalam PESPARANI sesungguhnya sama seperti keikutsertaan dalam kebaktian pelayanan kesaksian paduan suara di gereja. Setiap yang terlibat, konduktor, sopran, alto, tenor dan bas hingga pemusik yang mengiringi, harus selalu tampil dengan penuh tanggungjawab sehingga paduan suara yang dilantunkan adalah merupakan refleksi iman. Oleh karena itu rangkaian persiapan PESPARAWI perlu untuk mengupayakan hal-hal berikut:
  1. Agar kualitas iman dan ketaqwaan kita semakin meningkat, tata cara dan pola hidup semakin terarah kepada kepenuhan firman Tuhan, hidup dalam kasih dan peduli terhadap sesama, jadi bagian dari pelayanan Kristiani khususnya dalam era pembangunan nasional saat ini agar kesejahteraan masyarakat semakin terwujud. Saling memperhatikan satu dengan lainnya, yang merasa mampu hendaklah menopang yang lemah. Sebaliknya yang lemah bersedia dituntun.
  2. Agar memahami keaneka-ragaman denominasi sebagai anugerah Tuhan yang disyukuri, bukan sebaliknya, agar terwujud kerukunan. Tembok-tembok pemisah akan semakin menipis sehingga setiap umat Kristen di manapun menikmati persaudaraan, seiman dan rukun dalam sikap dan tindakan sehari-hari. Di sisi lain, kita berharap saudara- saudara beragama lainnya juga bersikap sama karena kebhinekaan kita sebagai bangsa hendaklah dijadikan sebagai sarana kesemarakan hidup berbangsa dan bernegara, bukan untuk menekan yang lain.
  3. Agar memahami bahwa istilah pertandingan dalam bahasa lomba paduan suara, bukan dalam istilah sehari-hari di mana orang saling mengalahkan dan menjatuhkan dan yang dipertandingkan adalah kualitas pembinaan sehingga pengertian 'lomba' adalah "kualitas paduan suara diperbandingkan." (bukan dipertandingkan).
  4. Agar pesta paduan suara gerejawi jauh dari kesan pemborosan materiel karena kontingen-kontingen yang berpartisipasi juga mewakili seluruh lapisan Indonesia yang dalam berbagai hal kehidupannya masih diwarnai keterbatasan-keterbatasan yang sangat elementer.
  5. Agar pesta paduan suara gerejawi tidak dipersaingkan dengan pesta keagamaan agama lainnya walaupun ada persamaan, yakni sama-sama digerakkan oleh Kementerian Agama RI.

Sangat diharapkan, melalui PESPARAWI Nasional setiap orang yang ikut berperan-serta akan selalu mengingat bahwa kegiatan PESPARAWI adalah bagian tugas pelayanan gereja. Dalam pemahaman itu, maka apabila nyanyian gereja diperlombakan itu berarti bahwa kualitas penyajian paduan suara yang membawakan lagu tersebut perlu dan harus pula semakin ditingkatkan. Sekaligus, bagian dari upaya kita untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) penyanyi-penyanyi gereja.


PENGERTIAN PESPARAWI NASIONAL

Untuk mendapat pemahaman yang sama, maka pengertian tentang Pesparawi perlu kita sepakati sbb:
  1. PESPARAWI adalah singkatan Pesta Paduan Suara Gerejawi. Ketika dibentuk, singkatan yang dipergunakan adalah PESPARANI, dari Pesta Paduan Suara Gerejani. Perubahan terjadi setelah seorang ahli Bahasa Indonesia, DR. Yus Badudu yang tampil dalam musyawarah Nasional pesta kedua di Tomohon (1986) mengusulkan perubahan menjadi Pesta Paduan Suara Gerejawi (PESPARAWI), dan disetujui oleh Munas.
  2. Kegiatan PESPARAWI yang diselenggarakan oleh LPPN menaungi dan menyangkut serta melibatkan gereja-gereja di Indonesia secara nasional dan secara formal diikuti dengan pencantuman kata 'Nasional' untuk membedakannya dari kegiatan Pesta Paduan Suara Gerejawi (PESPARAWI) yang diselenggarakan oleh organisasi (gereja, sekolah minggu, pemuda, kaum Bapak, Kaum Ibu/Seksi Perempuan dll.) atau lembaga-lembaga Universitas, LSM, perusahaan dsb), yang secara langsung maupun tidak langsung tidak terkait dengan LPPN.
  3. PESPARAWIi adalah salah satu bentuk kegiatan kerohanian yang sekaligus memperhatikan, menghargai dan mendorong pengembangan seni budaya yang bernafaskan keagamaan;
  4. Dalam PESPARAWI, kata "Pesta" dimaksudkan sebagai kegiatan yang bersifat perayaan ritual kristiani yang pada saat-saat tertentu wajar diadakan sebagai pernyataan iman dan percaya yang bersifat rohani, bukan dalam pengertian pesta ria dan foya-foya yang bersifat jasmaniah.
  5. PESPARAWI adalah Pesta Iman yang merupakan bentuk ibadah syukur dan puji-pujian kepada Allah yang telah menyatakan diri-Nya di dalam Yesus Kristus Tuhan kita.
  6. PESPARAWI terutama mengandung unsur perbandingan mutu menyanyi paduan suara, bukannya kompetisi yang saling menjatuhkan. Kelebihan salah satu kelompok hendaknya menjadi pendorong bagi kelompok lainnya untuk meningkatkan mutu nyanyian dan paduan suara.
  7. PESPARAWI dipersiapkan sebaik-baiknya agar tidak sekedar bernyanyi untuk berlomba, tetapi harus diarahkan kepada tujuan utama yaitu memuliakan nama Tuhan melalui segala tingkah laku dan kerjasama yang mencerminkan persekutuan umat Kristen yang berdasarkan kasih.


PESPARAWI DARI MASA KE MASA

1. PESPARANI Nasional I, (Jakarta, 16-20 Juni 1983)
Diikuti 27 propinsi (Kontingen) dengan jumlah 1.200 orang, upacara pembukaan dilakukan oleh Menteri Koordinator Kesejahteraan RI dengan didampingi oleh Menteri Agama RI, H. Alamsyah Ratu Prawiranegara, pimpinan-pimpinan denominasi gereja, para pejabat dan tokoh-tokoh bidang pemerintahan dan swasta serta ribuan warga masyarakat Kristen yang memenuhi Balai Sidang Senayan. Seluruh anggota kontingen, termasuk Sumatera Barat dan Timor-Timor yang hadir sebagai peninjau, ditampung di Wisma Olah Raga Senayan.
Pembukaan yang diisi dengan defile meriah dari seluruh kontingen daerah itu semakin semarak berkat penampilan yang sangat membahana dari Koor Agung yang terdiri dari 250 penyanyi di bawah pimpinan dirigen EL. Pohan untuk membawakan dua lagu berturut-turut yakni Haleluya dan Anak Domba.
Jenis pertandingan yang diikuti semua kontingen adalah paduan suara SATB (Sopran-Alto-Tenor-Bas atau disebut campuran) dewasa dan masing-masing mambawakan satu lagu wajib, Datanglah KerajaanMu, ciptaan EL Pohan, dan satu lagu pilihan peserta. Jawa Barat berhasil keluar sebagai juara dengan merebut gelar Paduan Suara Teladan.
Momentum lomba tingkat nasional ini juga dimanfaatkan untuk menyelenggarakan beberapa kegiatan penting lainnya seperti musyawarah nasional pertama (yang menetapkan Manado sebagai tempat penyelenggaraan lomba berikutnya yakni PESPARANI II), seminar paduan suara, pameran budaya dan wisata rohani. Upacara penutupan yang dipimpin oleh Menteri Agama juga diselenggarakan di Balai Sidang senayan.


2. PESPARANI Nasional II, (Manado, 24-29 Juni 1986)
Tomohon, sebuah tempat peristirahatan yang sejuk sekitar sejam perjalanan dari Manado, Sulawesi Utara, menjadi tempat penyelenggaraan PESPARANI II sesuai dengan hasil Munas PESPARANI I tahun 1983 di Jakarta. Pembukaan lomba yang diikuti oleh 27 kontingen (2.110 orang) ini dilaksanakan oleh Menteri Koordinator Kesejahteraan RI, H. Alamsyah Ratu Prawiranegara di stadion Klabat. Terlihat hadir mendampinginya antara lain Menteri Agama RI, H. Munawir Sjadzali, MA, Gubernur Sulawesi Utara CJ. Rantung bersama Muspida propinsi, para bupati, utusan-utusan gereja, dan tokoh-tokoh masyarakat. Stadion dipenuhi oleh penduduk dari kota-kota lain. Mereka menyambut defile peserta dengan gegap gempita.
Salah satu kesan yang sangat menonjol selama perlombaan, adalah sikap kebersamaan penduduk Tomohon. Semua peserta, 2.110 orang dari 27 provinsi, dipondokkan di rumah-rumah penduduk yang menerima mereka dengan tangan terbuka. Semua bersukacita. Yang kedua, keterlibatan masyarakat juga sangat mengesankan, tatkala pada upacara pembukaan mereka bergabung dalam satu paduan suara kolosal membawakan kidung-kidung pujian.
Jenis katagori yang diperlombakan sama seperti PESPARANI I, yakni SATB dengan satu lagu wajib, Tuhan Beserta Kita, ciptaan B sitompul, dan satu lagu pilihan masing-masing.. Tampil sebagai Paduan Suara Teladan dan memboyong Piala Presiden adalah paduan suara kontingen DI. Yogyakarta.
Acara Penutupan dilakukan oleh Menteri Agama H. Munawir Sjadzali, juga di stadion Klabat. Sementara dalam Munas, kota Semarang di Jawa Tengah ditetapkan sebagai tuan rumah PESPARANI berikutnya. Seminar juga menampilkan DR. Yus Badudu, ahli bahasa yang merekomendasikan nama PESPARAWI sebagai pengganti PESPARANI. Pameran budaya dan wisata rohani juga terselenggara dengan baik.


3. PESPARANI Nasional III, (Semarang, 25 Juni -1 Juli 1990)
Acara pembukaan pesta ketiga yang diikuti 27 provinsi dengan jumlah peserta 1.625 orang ini dilakukan oleh Menteri Koordinator Sopardjo Rustam di stadion Manahan, Semarang dan mencapai puncak kemeriahan melalui sendratari kolosal arahan seniman-tari tradisional Bagong Kusudiardjo. Lomba tingkat nasional ketiga ini bertambah dengan katagori Paduan Suara Anak. Untuk SATB dewasa, lagu wajibnya adalah Halleluya, Puji Tuhan, ciptaan Ronald Pohan, putra EL. Pohan (lihat PESPARANI I), dimenangkan oleh kontingen DKI Jakarta Raya, dan lagu wajib untuk katagori anak, Tuntun Aku Tuhan ciptaan Tarida Panjaitan-Hutauruk yang direbut oleh provinsi Jawa Timur.
Perubahan yang tidak kalah meriah adalah penaikan Bendera PESPARANI diiringi lagu Mars PESPARANI ciptaan Nortir Simanungkalit dan kemudian pada saat penutupan yang dilakukan oleh Menteri Agama H. Munawir Sjadzali, MA, penurunan diiringi dengan Hymne PESPARAWI ciptaan Ronald Pohan. Munas III yang mengiringi penyelenggaraan lomba, secara khusus membahas usul perubahan nama PESPARANI menjadi PESPARAWI yang diajukan dalam Munas II di Manado, dan akhirnya disetujui.


4. PESPARAWI Nasional IV, (Palangkaraya, 22-26 Juni 1993)
Sesuai dengan keputusan Munas III di Semarang, nama Pesta Paduan Suara Gerejawi (PESPARAWI) resmi dipergunakan. Pembukaan berlangsung di stadion Olahraga Sanaman Mantikel oleh Wakil Presiden Try Sutrisno yang didampingi oleh Menteri Agama H. Munawar Sjadzali, MA dan Wakil Gubernur KDH Kalteng, HJ. Andries dan dihadiri 27 provinsi yang mengirimkan kontingen masing-masing, seluruhnya mencapai 2.200 orang.
Peserta lomba tetap, namun jumlah peserta bertambah sekitar 600 menjadi 2.200 orang karena katagori lomba juga bertambah banyak, yakni Paduan Suara Dewasa Campuran (PSDC) golongan A dengan lagu wajib acapella (tanpa iringan musik) berjudul Tuhan, Engkau Mengenalku ciptaan A. Simanjuntak dan lagu wajib diiringi musik berjudul Surat-surat Paulus ciptaan N. Simanungkalit (dimenangkan oleh kontingen Jawa Barat), PSDC gol. B oleh Sulawesi Selatan, Paduan Suara Anak (PSA) gol. A acapella, O' Kawan-kawan ciptaan Victor Nadapdap dan lagu dengan iringan, berjudul Berdoa dan Menyanyi (direbut oleh provinsi Maluku), PSA gol. B oleh Kalimantan Timur, Vocal Group dimenangkan oleh kontingen Maluku. Cerdas Cermat Alkitab (CCA) oleh Kalimantan Tengah dan Baca Indah Alkitab (BIA) Putra oleh Maluku, dan BIA Putri oleh NTB.
Mengikuti langkah pelaksanaan di Manado tahun 1986, Palangka Raya juga menitipkan peserta-peserta di rumah warga jemaat gereja, dan semua berlangsung dengan baik hingga penutupan oleh Menteri Agama H. Munawir Sjadzali, MA. Penyelenggaraan lomba yang cukup rumit telah memberi pengalaman baru dalam menangani lomba berikutnya yang oleh Munas ditetapkan di provinsi Irian Jaya.


5. PESPARAWI Nasional V, (Surabaya, 21-28 Juni 1996)
Tiga pertimbangan penting yang berkaitan dengan hasil Munas Palangka Raya telah dikaji dengan seksama sebelum akhirnya memutuskan untuk memindahkan tempat penyelenggaraan PESPARAWI V dari Irian Jaya ke Surabaya di Jawa Timur, yakni pertama, tahun 1995, Irian Jaya jadi tuan rumah Sidang Raya PGI, kedua, pada tahun yang sama menjadi tuan rumah Jambore Pramuka, dan ketiga hampir seluruh provinsi mengusulkan agar tuan rumah PESPARAWI dipindahkan.
Dukungan Gubernur Jawa Timur dan masyarakat Kristen di provinsi itu telah memungkinkan pengalihan itu berjalan dengan baik. Bahkan wakil Presiden Try Sutrisno pun telah memperlihatkan pengertian yang sangat besar dengan kesediaan untuk kedua kalinya berturut-turut melakukan pembukaan resmi. Untuk yang kedua ini, defile peserta yang terdiri dari 27 provinsi itu berjumlah total 2.429 orang, sedikit lebih besar dari Palangka Raya.
Jenis lomba yang dipertandingkan sama seperti sebelumnya, yakni PSDC gol. A (direbut oleh Jawa Barat) dan gol. B (dimenangkan oleh kontingen Sulawesi Selatan) dengan lagu wajib acapella Penebus Disalib ciptaan Fridel Edward Lango dan lagu wajib dengan iringan: Kudengar SuaraMu, Tuhan ciptaan Piet J. Lewiakabessy, PSA gol. A (acapella): Pohon Kecil ciptaan Drs. Victor Nadapdap dan lagu dengan iringan: Bersyukurlah Pada Tuhan ciptaan Jerry Silangit.
Upacara penutupan dilaksanakan oleh Menteri Agama, H. DR. Tarmizi Taher. Sebelumnya, Munas PESPARAWI V telah menetapkan propinsi Nusa Tenggara Timur sebagai tuan rumah pesta berikut.


6. PESPARAWI Nasional VI, (Jakarta, 17-22 September 2000)
Melalui kata pengantarnya dalam Buku Panduan PESPARAWI Nasional VI, Ketua Panitia Pelaksana telah mengutarakan bahwa pesta paduan suara kali ini berlangsung dalam kondisi dan keprihatinan bangsa Indonesia sejak tiga tahun terakhir sehingga diselenggarakan dengan sederhana. Keprihatinan itu juga terbaca dari keputusan Pemda Nusa Tenggara Timur yang menembalikan mandat sebagai tuan rumah setelah mempertimbangkan kondisi geografis dan perekonomian yang sulit yang sedang dihadapi oleh daerah tersebut.
Agar pengembalian mandat itu tidak membuat semangat berpaduan suara membeku, Ditjen Bimas Kristen mengalihkan tempat penyelenggaraan PESPARAWI VI ke Jakarta dengan beberapa penyesuaian, termasuk jadwal semula bulan Juli 2000, diundur ke bulan September supaya tidak bentrok dengan persiapan-persiapan pesta, terutama dari segi keamanan, karena berdekatan dengan jadwal Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).
Pengaruh terbesar dari pengalihan itu adalah penciutan dari sejumlah katagori yang diperlombakan menjadi hanya satu saja, yakni Paduan Suara Dewasa Campuran (PSDC), namun, satu kategori baru, yakni Lagu Daerah, ditampilkan sebagai eksebisi sehingga tidak ikut dinilai. Lomba PSDC dimenangkan oleh kontingen Maluku.
Walau ada pengalihan lokasi, Acara Pembukaan tetap berlangsung cukup unik. Bertempat di Padepokan Pencak Silat di Taman Mini Indonesia Indah, PESPARAWI Nasional VI yang dihadiri oleh seluruh kontingen ini secara resmi dibuka oleh pimpinan Lembaga Gereja Aras Nasional dengan dua kontingen, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat hanya khusus mengikuti Munas dan Seminar. Lebih menarik lagi, acara penutupan di Istora Senayan dilakukan oleh Presiden RI, Abdurrachman Wahid.


7. PESPARAWI Nasional VII, (Makassar, 5 -12 Desember 2003)
Pembukaan PESPARAWI Nasional VII bertempat di stadion sepakbola Anging Mamiri. Perhelatan PESPARAWI kali ini ikut menambah semarak suasana natal dan akhir tahun di tengah kota Makassar. Seluruh jadwal acara PESPARAWI, mulai dari penataran, Musyawarah Nasional, pameran, wisata rohani hingga penutupan oleh Menteri Agama, terlaksana sepenuhnya.


8. PESPARAWI Nasional VIII, (Medan, 8-17 Juli 2006)
Medan menjadi kota pertama di pulau sumatera yang dapat kesempatan menjadi tuan rumah setelah tujuh penyelenggaraan PESPARAWI wara-wiri antara pulau Jawa, Sulawesi dan Kalimantan. Dihadiri 33 kontingen dari seluruh Indonesia,
pembukaan resmi berlangsung dalam udara cerah di stadion sepakbola Teladan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan didampingi Menteri Agama Muhammad M. Basyuni, Gubernur Sumut Drs. Rudolf Pardede, dan lain-lain.
Pidato peresmian Presiden disusul dengan defile seluruh peserta, kemudian atraksi massal gerak dan tari yang menggambarkan pertumbuhan dan penyebaran agama Kristen di Sumatera Utara, lalu disusul dengan paduan suara gabungan semua kontingen membawakan lagu Arbab dipimpin oleh Bonar Gorga Gultom yang juga adalah pencipta lagu tersebut. Atraksi yang tidak kalah menarik ditampilkan oleh paduan suara dari Korea Selatan yang menyajikan serangkaian lagu termasuk dari Indonesia.
Bagian kedua dari acara pembukaan, setelah Presiden dan rombongan meninggalkan stadion, adalah kebaktian dengan khotbah yang disampaikan oleh Ketua PGI, Pdt. DR. A.A. Yewangoe, suasana semakin sejuk karena bersamaan dengan turunnya hujan lebat yang menyiram kota Medan.
Seluruh jadwal acara PESPARAWI, mulai dari penataran, Musyawarah Nasional, pameran, wisata rohani hingga penutupan oleh Menteri Agama, terlaksana sepenuhnya.


9.  PESPARAWI Nasional IX, (Samarinda, 8-14 Nopember 2009)
Sebanyak 4.716 peserta terdaftar di Pesta Paduan Suara Gerejawi IX di Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Mereka berasal dari 26 kontingen provinsi yang menghadiri acara dan lomba bernuansa kerohanian Kristiani.
Ketua Umum Panitia Pesparawi IX Marthin Billa mengemukakan, Pesparawi tingkat nasional setiap tiga tahun itu untuk pelaksanaan yang ke-9 direncanakan diikuti oleh 7.161 peserta. Namun, 1.444 peserta dari tujuh kontingen belum bisa memastikan kehadirannya. Tiga dari Pulau Sumatera yakni Nangroe Aceh Darussalam, Riau, dan Sumatera Barat. Dua dari Pulau Jawa yaitu Banten dan DKI Jakarta. Dua lainnya dari Pulau Sulawesi yakni Gorontalo dan Sulawesi Tenggara. Billa juga mengatakan, Pesparawi IX melibatkan 420 panitia. Semua acara berlangsung di Kompleks Stadion Madya Sempaja (Samarinda).
Rangkaian acara seminggu itu, terdiri dari ibadah, pembukaan, lomba paduan suara, musyawarah nasional, seminar, pameran, wisata kerohanian, dan penutupan. Lomba paduan suara berkategori dewasa , perempuan, pria, remaja, dan anak-anak. Ada juga lomba vokal grup, solois anak putra dan putri, solois remaja putra dan putri, dan lagu rakyat atau lagu daerah.
Sebanyak 43 orang dari Indonesia dan mancanegara juga menjadi juri perlombaan paduan suara. Kontingen Sulawesi Utara yang menjadi Juara Umum pada Pesta Paduan Suara Gerejawi (PESPARAWI) Nasional IX Kalimantan Timur.


10. PESPARAWI Nasional X, (Kendari, 1-11 Juli 2012)
  • Logo & Filosofi PESPARAWI Nasional X


  • Jumlah Kontingen PESPARAWI Nasional X






Data berdasarkan hasil Konsultasi Dengan Pimpinan LPPN, LPPD Provinsi dan Kabid Bimas/Kabid/Urag/Pembimas Kristen se Indonesia, tanggal 26-28 April 2012 di Kendari, Sulawesi Tenggara


  • Penarikan Nomor Undian PESPARAWI Nasional X


  • Peta Lokasi PESPARAWI Nasional X di Kendari, Sulawesi Tenggara



  • Denah Podium Perlombaan PESPARAWI Nasional X Tahun 2012 Aula GOR (2 Dimensi)







  • Denah Podium Perlombaan PESPARAWI Nasional X Tahun 2012 Aula GOR (3 Dimensi)











www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=16&cad=rja&ved=0CEEQFjAFOAo&url=http%3A%2F%2Fbimaskristen.kemenag.go.id%2Findex.php%2Fpesparawi&ei=m5xaUtXJPMGUrgeCw4GQBw&usg=AFQjCNFhvqOCgTJ0PbCQuzn172_ykDDgOA&bvm=bv.53899372,d.bmk

0 komentar:

Poskan Komentar